MUSEUM JAKARTA

Jl. Taman Fatahillah No. 2 Pinang Siang Tambora Jakarta Barat DKI Jakarta (021) 6901483. Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota (bahasa Belanda: Stadhuis) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

CANDI PRAMBANAN

Jalan Raya Jogja - Solo Km 16 Prambanan, Sleman, Yogyakarta 55571, Indonesia Phone: (0274) 496 408.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 21 April 2013

KARTINI: Sebuah Biografi

“Hidup ini patut kita hayati! Bagaimana kita mau menang kalau kita tidak berjuang lebih dahulu? Dan dengan bergulat kita memperoleh kekuatan. Dan dengan tersesat-sesat kita menemukan sebuah jejak (Surat Kartini)” Pada seputaran bulan April sudah dapat dipastikan di sekolah-sekolah baik negri maupun swasta sering diadakan kontes pakaian adat kebaya antar siswa. Mengapa demikian? Tanggal 21 April, Indonesia memperingati lahirnya seorang sosok wanita yang merupakan tokoh wanita yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Kartini, sosok wanita yang menjadi sumber inspirasi bagi para wanita untuk mendapatkan kesamaan derajat dan kedudukan dengan kaum pria, bebas mengekspresikan dirinya, bebas memperoleh pendidikan tinggi tanpa batas, bebas sebebas yang dilakukan laki-laki. Pada masa sekarang, pembahasan tentang Kartini seakan tidak akan pernah habis. Kartini adalah pribadi yang tangguh, mandiri, dan pantang menyerah. Walaupun lahir dan dibesarkan oleh lingkungan ningrat, namun kebangsawanannya yang kental tidak menyurutkan semangat juang beliau untuk memperjuangkan emansipasi wanita pribumi. Bahkan usahanya memajukan kaum pribumi pun tergolong luar biasa besar. Beliau tidak mau menjadi wanita yang lemah apalagi penakut. Beliau berusaha menjadi wanita yang sejajar dengan pria. Bukan untuk berkompetisi namun bersama-sama membangun bangsanya, dengan tidak mengingkari kodratnya sebagai wanita. Melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 108 Th 1964 dinyatakan sebagai “Pahlawan Pergerakan Nasional” dan hari lahirnya dinyatakan sebagai hari raya nasional. Perjuangan Kartini dilatarbelakangi kehidupan para wanita pada zamannya yang pada umumnya hanya menjalankan kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Apa yang dikerjakan ibu rumah tangga pada waktu itu juga terbatas pada tugas menjalankan fungsi sebagai istri, mengasuh anak, mengurus dapur, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Kartini melihat para wanita pada waktu itu tidak memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan kaum lelaki untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dalam kondisi seperti itu Kartini juga melihat adanya kesenjangan intelektual di antara suami istri dalam hal pendidikan. Padahal untuk bisa membentuk keluarga yang baik, terutama dalam mendidik anak, selain diperlukan seorang ayah yang berpendidikan tinggi, juga diperlukan seorang ibu yang juga berpendidikan tinggi. Kartini yang berjuang merubah pemikiran dari sistem kehidupan, pola pikir, tradisi, budaya, dan lingkungan, karena peran wanita dibatasi dalam berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.. Dari latar belakang sejarah perjuangan Kartini sudah jelaslah bahwa arah perjuangan Kartini adalah memajukan kaum wanita yang dimulai dari pendidikan. Kartini tidak pernah menganggap pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sebagai pekerjaan yang lebih rendah dari pada pekerjaan yang dilakukan oleh kaum lelaki. Bagaimanakah anggapan wanita Indonesia zaman sekarang tentang pekerjaan sebagai ibu rumah tangga? Dalam perjuangannya untuk memajukan kaum wanita Indonesia yang antara lain melalui buku yang ditulisnya dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” ternyata Kartini mendapat dukungan penuh dari suaminya. Ini artinya perjuangan Kartini tidak dimaksudkan untuk bersaing atau mengalahkan kaum lelaki. Sisi lain yang sangat penting dari kenyataan tersebut adalah bahwa suami Kartini adalah seorang lelaki yang hidup pada zaman dulu tapi berpikir maju atau modern. Dukungan terhadap istrinya yang memperjuangkan persamaan hak wanita menunjukkan bahwa suami Kartini sangat mengerti kalau perjuangan hak asasi adalah perjuangan universal yang sebetulnya tidak perlu memandang jenis kelamin. Menempatkan Kartini dalam konteks suasana pada zamannya, maka dapat dibayangkan keinginannya untuk diberlakukan sebagai sesama manusia memang merupakan sesuatu aspirasi yang tidak hanya memerlukan perjuangan gigih, tetapi juga sikap berani menantang arus. Kartini adalah seorang wanita muda, berbakat dan berpandangan luas. Dia berhasrat untuk memperbaiki dunianya dengan nilai budaya yang tinggi. Bisa dilihat, dalam beberapa tahun saja dia tumbuh menjadi seorang wanita dengan penuh cita cita etis yang tinggi. Tidak banyak wanita di Jawa yang menguasai bahasa Belanda sebelum awal abad ke-20. Dia mengungkapkan dengan sangat mengesankan dalam catatan dengan judul “Berilah Setiap Orang Jawa Pendidikan”. Meskipun dia berperasaan yang halus tetapi merupakan seorang pejuang yang tegar. Jelas, dalam hidupnya juga merasakan kegagalan dari setiap hal yang ia dambakan. Perjuangan kartini tentu bukanlah hal yang mudah pada saat itu. Aturan ketat dari keluarga maupun kekuasaan feodalisme saat itu telah membatasi ruang geraknya untuk mencerdaskan dan mengakat derajat kaum wanita. Memang perjuangan Kartini bukanlah dengan memegang senjata atau pedang dan tombak melainkan perjuangan dengan memberikan semangat dan pemikiran bagi bangsa Indonesia terutama kaum perempuan untuk bisa maju seperti laki-laki dalam segala bidang, terutama dalam mengejar pendidikan dan ilmu pengetahuan. Meskipun hanya dengan berkeluh kesah melalui surat-suratnya kepada beberapa temannya di Belanda, ternyata telah membawa dampak yang positif bagi kemajuan perjuangan kaum wanita di negeri ini. Kartini akhirnya diizikan oleh suami untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Kartini memang telah berjasa mengubah pandangan feodalisme masyarakat jawa yang menempatkan seorang wanita pada posisi yang serendah-rendahnya. Ada aturan-aturan bagi wanita pada saat itu bahwa mereka harus dipingit ketika sudah memasuki usia baligh. Mereka tidak boleh lagi sekolah dan menuntut ilmu di luar rumah. Aturan-aturan feodalisme tersebut tentu telah membelenggu kaum wanita yang sebenarnya juga memiliki potensi sama seperti kaum pria. Sumber: Asvi Warman Adam, Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwanya, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2009. Pelt-Otten, Liontien van, R.A. Kartini: Dengan Latar Belakang Zamanya, Surabaya: Yayasan Sanggar Bina Tama, 2003. Saparinah Sadli, Berbeda tetapi Setara: Pemikiran tentang Kajian Perempuan, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2010.